Di luar sana ada istilah “kesundulan” ketika seorang ibu kembali hamil dengan jarak tidak terlalu jauh dari persalinan sebelumnya. Bahkan, ovulasi bisa kembali normal dalam rentang waktu 74 hari setelah melahirkan dan memungkinkan seorang perempuan hamil lagi.

Nah, ketika berbicara soal jarak ideal, tentu tidak bisa ditarik satu batasan tegas tentang rentang waktu berapa bulan atau berapa tahun. Setiap individu unik, mulai dari tubuh hingga perjalanannya memiliki keturunan.

Namun saat memasukkan faktor fisik dan mental dalam pertimbangan, tentu ada batas kapan jarak ideal antara satu kehamilan dengan persalinan sebelumnya.

Fase ovulasi setelah persalinan

World Health Organization pada tahun 2011 pernah menerbitkan hasil riset yang cukup mencengangkan. Ovulasi dalam tubuh seorang perempuan bisa kembali normal hanya dalam waktu 74 hari setelah melahirkan. Artinya, kurang dari 3 bulan maka ibu bisa kembali mengandung.

Lebih jauh lagi, ibu yang kembali hamil dalam jarak dekat dengan persalinan bisa saja tidak menyadari sedang mengandung. Sebab, biasanya Ibu tidak langsung haid beberapa bulan setelah melahirkan.

Jadi, ketika terjadi pembuahan sel telur pada masa ovulasi atau masa subuh, sangat mungkin seorang ibu hamil lagi ketika anaknya masih berusia 3 bulan.

Risiko jarak kehamilan terlalu dekat

Selesai mengemban tugas sebagai ibu hamil, tibalah di fase berikutnya yaitu menjadi ibu menyusui. Idealnya, bayi mendapatkan asupan ASI eksklusif hingga usia 6 bulan.

Selain itu, fisik ibu usai melahirkan tentu harus melewati fase pemulihan. Di saat yang sama, kebutuhan bayi newborn cukup tinggi seperti menyusu tiap 2 jam hingga pola tidur masih terbalik.

Ada pula ibu menyusui yang harus menyisihkan waktunya untuk memerah ASI untuk stok apabila bekerja. Waktu istirahat kian tersita.

Seluruh proses adaptasi ini berlangsung cukup melelahkan dan apabila ditambah dengan kehamilan, bisa membuat fisik semakin kewalahan.

Itu baru fisik.

Bagaimana dengan mental? Kembali hamil perlu kesiapan mental yang luar biasa matang. Belum tentu seorang ibu yang hamil lagi dalam waktu sangat dekat dari persalinan sebelumnya bisa siap dengan proses ini.

Itulah mengapa dokter spesialis kandungan akan menyarankan pemasangan alat kontrasepsi pada sesi pemeriksaan beberapa bulan setelah persalinan.

Jadi, berapa jarak idealnya?

Setidaknya, Ibu perlu menunggu hingga 12 bulan dari persalinan sebelum hamil lagi. Ini bisa jadi patokan apabila menginginkan jarak anak satu dan berikutnya tidak terlalu jauh.

Apabila kehamilan terjadi kurang dari 12 bulan sejak melahirkan, risiko persalinan prematur cukup tinggi. Risiko ini juga ada pada ibu hamil yang interval persalinannya lebih dari 5 tahun. Utamanya, bagi ibu hamil yang sudah berusia di atas 35 tahun.

Artinya, terlalu dekat maupun terlalu jauh sama-sama kurang ideal. Tidak ada yang bisa memberi patokan jarak sekian bulan atau sekian tahun karena pertimbangan setiap pasangan tentu berbeda.

Belum lagi faktor lain seperti kondisi tubuh, riwayat medis, riwayat persalinan, kesiapan finansial, kesiapan mental, dan lain sebagainya juga harus masuk dalam konsiderasi.

Ibu jangan lupa, penting untuk menunda kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi sesuai kesepakatan. Ada banyak pilihan dengan cara kerja yang berbeda-beda. Penggunaan kontrasepsi adalah sepenuhnya wewenang Ibu dan suami.

Jangan sampai kehamilan yang seharusnya menjadi perjalanan menakjubkan justru jadi mimpi buruk. Ada yang tak kalah penting dari kesiapan tubuh Ibu – terutama rahim – saat harus hamil lagi, yaitu mental.

Mengingat setiap Ibu rentan mengalami baby blues dalam rentang waktu 2 minggu sejak melahirkan, jangan sampai jarak kehamilan terlalu dekat justru memberi peluang bagi terjadinya postpartum depression.

Semakin matang perencanaan, tentu akan semakin menyenangkan bagi seluruh pihak yang terlibat.

Sumber:

WHO. https://apps.who.int/iris/bitstream/10665/93680/1/9789241506496_eng.pdf

Journal of Biosocial Science. https://www.cambridge.org/core/journals/journal-of-biosocial-science/article/abs/study-of-returning-fertility-after-childbirth-and-during-lactation-by-measurement-of-urinary-oestrogen-and-pregnanediol-excretion-and-cervical-mucus-production/2BC9A3745EDF362158C3E7E023D73FF5

Obstetrics & Gynecology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21343770

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here